Jaga Tradisi Lewat Tulisan, Disdikbud Parimo Fokus Hidupkan Budaya Menulis

Parigi, Harianpos – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Parigi Moutong terus menguatkan tradisi literasi sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya lokal. Melalui proyek penulisan buku bertajuk “Daur Hidup Masyarakat”, Disdikbud tidak hanya mendokumentasikan adat istiadat, tetapi juga menanamkan budaya menulis sebagai sarana menjaga identitas daerah.


Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Parigi Moutong, Ninong Pandake, menegaskan bahwa program ini menjadi bentuk nyata komitmen pemerintah dalam merawat warisan budaya melalui tulisan yang sistematis dan berkelanjutan.


“Penulisan ini bukan sekadar dokumentasi, tapi juga upaya membangun tradisi menulis di tengah masyarakat. Kita ingin budaya tidak hanya diwariskan secara lisan, tapi juga tertulis dan bisa dipelajari lintas generasi,” ujarnya belum lama ini.


Proyek literasi ini telah berjalan selama tiga tahun dan kini memasuki tahap akhir dengan penyusunan buku untuk suku keempat. Setiap tahunnya, Disdikbud fokus menggarap satu suku besar di Parigi Moutong, dimulai dari Suku Kaili, kemudian Suku Tajio, Suku Lauje, dan saat ini tengah berlangsung penulisan untuk Suku Tialo.


Dalam prosesnya, Disdikbud melibatkan tokoh adat dan narasumber lokal guna memastikan keakuratan serta kedalaman informasi. Untuk penyusunan buku Suku Tialo, salah satu tokoh yang dilibatkan adalah Ardi Salama, yang dinilai memiliki pemahaman kuat terkait tradisi setempat.


Menurut Ninong, tradisi menulis menjadi langkah strategis di tengah derasnya arus modernisasi yang berpotensi menggerus nilai-nilai budaya lokal. Dengan dituangkannya adat istiadat dalam bentuk buku, generasi muda diharapkan memiliki referensi yang jelas dan mudah diakses.


Saat ini, buku yang disusun masih dalam tahap draf awal dengan jumlah cetakan terbatas, sekitar 20 eksemplar. Namun, ke depan Disdikbud berencana menggelar bedah buku secara serentak untuk empat suku yang telah didokumentasikan.


“Setelah semua selesai, kita akan bedah bersama untuk penyempurnaan. Setelah itu baru diperbanyak dan disebarluaskan, termasuk ke perpustakaan dan lembaga pendidikan,” jelasnya.


Upaya ini diharapkan tidak hanya menjaga keberlangsungan tradisi, tetapi juga membangkitkan kesadaran masyarakat akan pentingnya budaya literasi. Dengan demikian, tulisan menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan budaya Parigi Moutong.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *