Proyek Landscape Habiskan Rp 397 Juta DAK di Perpustakaan Parimo Tampak Sederhana

Parigi, Harianpos – Proyek pembangunan landscape di Gedung Perpustakaan Daerah Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) senilai lebih dari Rp 397 juta menuai sorotan.

Proyek yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun Anggaran 2025 itu dinilai tampil sederhana dan tidak mencerminkan pekerjaan bernilai ratusan juta rupiah.

Pantauan di lapangan menunjukkan pekerjaan hanya berupa penataan taman dengan kolam kecil mengelilingi bangunan, beberapa tanaman pohon, hamparan rumput yang belum rata, serta tiang penerangan yang sebagian belum terpasang lampu memperkuat kesan proyek yang belum matang secara visual.

Tidak terlihat elemen landscape kompleks sebagaimana lazimnya proyek penataan kawasan, seperti jalur pejalan kaki atau escape route, kolam termasuk kolam terapi, sistem drainase dan resapan, pekerjaan hardscape berupa paving, plaza, dinding taman dan tangga, penerangan taman, vegetasi berlapis, hingga elemen keselamatan dan aksesibilitas.

Kolam yang dibangun pun terkesan sederhana, dengan ketinggian 50 cm dan lebar berkisar 80 cm tanpa ornamen atau desain estetika menonjol.

Kondisi ini menimbulkan tanda tanya publik, mengingat proyek berlabel DAK biasanya memiliki spesifikasi teknis yang rinci serta standar kualitas tertentu. Namun, hasil pekerjaan yang tampak dinilai tidak sebanding dengan besaran anggaran yang digelontorkan.

Menanggapi sorotan tersebut, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek, Sakti Lasimpala, menegaskan bahwa pekerjaan landscape yang dilaksanakan bukan sekadar penataan taman, melainkan bagian dari perencanaan kawasan gedung yang telah dihitung berdasarkan bobot pekerjaan dalam kontrak.

Sakti menjelaskan, landscape tersebut mengelilingi gedung perpustakaan dan terintegrasi dengan sejumlah elemen, termasuk kolam yang berada di sekeliling bangunan. Salah satunya adalah kolam terapi yang terletak di sisi gedung.

“Kalau dilihat dari depan, itu memang taman yang mengelilingi gedung. Di situ ada kolam, termasuk kolam terapi di samping gedung. Jadi pekerjaan landscape itu mutar mengikuti bangunan,” kata Sakti kepada wartawan.

Menurutnya, seluruh pekerjaan tersebut telah disesuaikan dengan perhitungan anggaran dan bobot pekerjaan yang dapat dibiayai. Ia menilai tidak ada pekerjaan yang dilakukan di luar perencanaan.

“Adanya memang sudah seperti hitungannya. Jadi kalau saya melihatnya, bobot pekerjaan yang dibiayai memang seperti itu,” ujarnya.

Sakti juga menanggapi sorotan terkait kondisi rumput yang terlihat belum rata dan tampak terkotak-kotak. Ia mengaku sempat mempertanyakan hal tersebut, namun setelah dijelaskan secara teknis, metode tersebut memang lazim digunakan.

“Awalnya saya juga sempat bertanya, kenapa rumputnya seperti kotak-kotak satu meter. Tapi secara teknis, penanaman rumput gajah memang dilakukan satu-satu seperti itu,” jelasnya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut bersifat sementara. Setelah beberapa bulan, rumput akan menyebar dan menutup seluruh area yang ditanami.“Kalau dilihat beberapa bulan kemudian, rumputnya akan menyebar,” katanya.

Terkait keterlambatan pekerjaan, Sakti menyebut hal itu tidak terlepas dari progres pembangunan gedung induk layanan perpustakaan. Landscape baru dapat dikerjakan setelah struktur gedung selesai, karena masih terdapat material dan besi konstruksi di area tersebut.

“Landscape itu kan berada di bagian gedung. Kalau gedung belum selesai, tidak mungkin landscape bisa dikerjakan. Pasti masih ada besi-besi dan pekerjaan struktur,” ungkapnya.

Ia mengakui kondisi tersebut menyebabkan pekerjaan melewati batas waktu kontrak. Meski demikian, pihak penyedia dinilai memahami risiko tersebut dan tetap dikenakan denda, meski nilainya relatif kecil.

“Walaupun mereka dikenakan denda, kecil memang, tapi tetap denda. Mereka memahami karena kondisi gedung memang belum bisa disentuh landscape,” ujarnya.

Sakti menambahkan, seandainya pembangunan gedung dapat selesai tepat waktu pada 14 Desember lalu, maka pekerjaan landscape diyakini tidak akan mengalami kendala.

“Kalau gedung selesai tepat waktu, sebenarnya tidak akan ada masalah. Tapi karena ada kendala teknis di gedung, landscape ikut terdampak,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *