Parigi, Harianpos – Aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Desa Sipayo, Kecamatan Sidoan, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, dikabarkan kembali beroperasi setelah sebelumnya sempat terhenti akibat banjir yang melanda kawasan tambang.
Informasi yang diperoleh media ini menyebutkan, dua unit alat berat jenis ekskavator kembali dikerahkan ke lokasi tambang. Alat berat tersebut disebut-sebut berada di bawah kendali seorang pemodal berinisial A.
“Info bahwa kemarin (Kamis, 13 Agustus) ada dua unit alat berat yang naik ke lokasi tambang di wilayah Sipayo/Malanggo,” kata sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Menurut sumber tersebut, aktivitas PETI sebelumnya sempat berhenti setelah banjir menerjang kawasan pertambangan. Banjir disebut menyebabkan mesin alkon dan sejumlah peralatan tambang terseret arus.
“Memang dorang sempat berhenti karena terjadi banjir,” ujarnya.
Namun, setelah kondisi di lokasi dinilai mulai memungkinkan, aktivitas pertambangan kembali disebut dilanjutkan dengan masuknya dua unit ekskavator. Kembali beroperasinya aktivitas PETI tersebut memicu kekhawatiran warga sekitar.
Penggunaan alat berat untuk melakukan pengerukan dikhawatirkan dapat memperparah kerusakan lingkungan, terutama apabila aktivitas berlangsung di sekitar aliran sungai.
Ia juga mencemaskan potensi kekeruhan air, sedimentasi, hingga perubahan aliran sungai akibat aktivitas pengerukan.
Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko banjir saat hujan deras, terlebih material hasil pengerukan berpotensi terbawa arus ke wilayah yang lebih rendah.
Kekhawatiran warga, kata dia, semakin besar karena kawasan tambang tersebut sebelumnya disebut telah terdampak banjir.
Selaku warga, ia berharap Pemerintah Daerah bersama aparat penegak hukum (APH) segera turun melakukan pengecekan langsung ke lokasi.
Sumber meminta seluruh aktivitas pertambangan dipastikan memiliki legalitas serta tidak menimbulkan ancaman terhadap lingkungan dan keselamatan masyarakat.
“Kami berharap pemerintah daerah melakukan pengecekan di lokasi sebelum aktivitas tambang emas ilegal tambah meluas. Sementara APH kami minta menangkap semua yang terlibat, terutama para pemodal,” sebut sumber.
Sumber tersebut juga mengingatkan adanya potensi dampak terhadap masyarakat yang bermukim di wilayah lebih rendah dari kawasan tambang.
“Kami khawatir kalau alat berat kembali beroperasi, apalagi kalau hujan turun deras. Dampaknya bisa ke sungai dan masyarakat di bawah,” pungkasnya.
