Limbah Bawah Berkah, Peternak di Parimo Olah Kotoran Sapi Hasilkan Cuan

ParigiHarianpos – Kelompok Ternak di Desa Sumber Sari, Kecamatan Parigi Selatan, Kabupaten Parigi Moutong mengolah kotoran sapi menjadi pupuk trichokompos yang bernilai ekonomi.

Berawal dari keresahan susah mendapatkan pupuk kimia, Waras Rudiyono ketua kelompok Peternak Sapi Harapan II, berinisiatif mendirikan kelompok ternak di tahun 2021 yang masih beranggotakan 10 orang, sejak saat itu mulai melakukan pelatihan-pelatihan.

Mimpi untuk membangun ekosistem yang memberi manfaat menjadi nyata, berbekal pelatihan yang dijalani di Balai Standarisasi Instrumen Pertanian (BSIP) Sulawesi Tengah memberi manfaat.

Dari pelatihan tersebut, Ada beberapa pengetahuan yang mereka dapatkan pertama pembuatan Mikro Organisme Lokal (MOL), kedua pengolahan pupuk organik kontinu, dan yang ketiga pupuk trichokompos.

Diawal produksi kata Waras, hanya anggota kelompoknya saja yang memanfaatkannya untuk menambah fitamin pada tanamannya.

“Awalnya kita masih manfaatkan di kebun sendiri, lalu banyak orang yang melihat dan mereka tertarik untuk membelinya, sekitar masuk 1 tahun sudah mulai banyak yang mencarinya,” ucap Waras kepada media ini Rabu, (24/01/2024).

Selai itu ia mengatakan kelompoknya sudah mempunyai hasil laboratoriumnya mengenai pupuk padat dan pupuk cairnya dari Balai Tanah Bogor.

“Dari hasil uji lab tersebut isi kandungannya layak untuk di jual.” kata Waras

Untuk pemasaran kata Waras, mereka masih menggunakan marketing mulut ke mulut, untuk media sosial belum terlalu masif, terkait harga bervariatif.

“Untuk jenis pupuk, ada jenis pupuk padat dengan berat 30 Kg kami jual 30 ribu, untuk bio urine itu kita jual 15 ribu perliternya, Kami masi menggunakan metode pejualan mulut ke mulut, untuk media sosial belum terlalu aktif, sesekali di publis melalui media sosial menggunakan akun pribadi anggota kelompok,” Tuturnya

Namun, disisi lain ia menyebut, pupuk limbah ternak sudah mulai diminati oleh masyarakat, tentu permintaan masyarakat sangat besar, olehnya perlu inovasi baru.

“Permintaan masyarakat sangat besar makanya kami mengundang BSIP untuk yang kesekian kalinya untuk mengajarkan kita pengolahan dalam skala besar, kalau kami menggunakan teori lama untuk urusan sekala besar pasti gagal, makanya kami melakukan Bimtek teori baru untuk kita produksi sekala besar,” pungkasnya. *

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.