LS-ADI Soroti Krisis Lingkungan, Muhammad Sadig: Ubah Cara Pandang Sampah Jadi Bernilai

Palu, Harianpos – Dewan Pendiri Lingkar Studi Aksi dan Demokrasi Indonesia, Muhammad Sadig, menyoroti persoalan lingkungan yang hingga kini masih menjadi tantangan besar di tengah masyarakat, khususnya terkait pengelolaan sampah. Menurutnya, persoalan utama bukan hanya terletak pada sampah itu sendiri, melainkan pada cara pandang manusia terhadap nilai sebuah sampah.


“Sampah itu tidak bernilai. Tapi bagaimana cara kita mengubahnya sehingga menjadi bernilai,” ungkapnya.


Hal tersebut disampaikan Muhammad Sadig saat menjadi pembicara dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Lingkar Studi Aksi dan Demokrasi Indonesia dengan tema “Hadapi Tantangan Lingkungan Melalui Pendidikan yang Berkarakter dan Berkelanjutan”, Rabu (6/5/2026).


Kegiatan tersebut menghadirkan tiga narasumber, yakni Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu, Dekan FTIK UIN Datokarama Palu, serta Dewan Pendiri LS-ADI.

Dalam pemaparannya, Sadig menekankan pentingnya perubahan pola pikir generasi muda, khususnya mahasiswa, agar tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan melalui inovasi dan kreativitas, termasuk dalam pengelolaan lingkungan.


“Nah, ini tentang mengubah cara berpikir manusia. Teman-teman mahasiswa saat ini masih merasa semuanya baik-baik saja. Padahal kita sudah diperlihatkan berbagai persoalan seperti pemanasan global, krisis moneter, El Nino, dan berbagai dampak lingkungan lainnya. Namun, kesadaran itu belum tumbuh,” jelasnya.


Ia menilai pendidikan harus mampu membangun kesadaran ekologis sejak dini melalui praktik nyata di sekolah.


“Inilah yang perlu kita edukasi, menghadirkan pendidikan yang mampu membangun kesadaran praktik ekologis di sekolah sehingga anak-anak sejak usia dini sudah terbiasa menjaga lingkungan,” paparnya.


Sadig juga menegaskan bahwa upaya mengurangi krisis lingkungan memerlukan keterlibatan semua pihak, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah, hingga institusi pendidikan.


“Melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pemerintah untuk melakukan sosialisasi. Mungkin ada program masjid hijau, gerai hijau, sekolah hijau, pasar hijau, kota hijau, hingga gerakan tanam hijau. Kalau semua hadir, pemerintah hadir melalui program, anggaran, teknologi lingkungan, SDM, dan pendidikan secara masif, maka krisis lingkungan bisa kita turunkan,” ujarnya.


Sementara itu, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu, Ibnu Mundzir, turut menyoroti pentingnya pengelolaan lingkungan yang tetap memperhatikan keseimbangan alam serta kemampuan lingkungan dalam memulihkan diri.


Menurutnya, pemanfaatan sumber daya alam tetap dapat dilakukan selama tidak melampaui batas daya dukung dan daya tampung lingkungan.


“Kalau dalam konsep ilmu lingkungan, semua sesuatu bisa dieksplorasi selama tidak melewati dua hal, yakni daya tampung dan daya dukung lingkungan. Artinya, alam punya kemampuan untuk melakukan recovery,” jelasnya.


Dalam pemaparannya, Ibnu Mundzir juga mengajak peserta diskusi memahami dampak penggunaan bahan kimia melalui buku Silent Spring, yang membahas bagaimana zat kimia seperti herbisida masuk ke dalam rantai makanan hingga berdampak pada kesehatan manusia.


“Buku Silent Spring menggambarkan bagaimana herbisida masuk ke dalam rantai makanan,” katanya.


Ia juga mengaitkan persoalan lingkungan dan kesehatan dengan nilai-nilai agama. Menurutnya, ajaran agama sejatinya telah mengatur pola hidup manusia demi menjaga keberlangsungan hidup dan kesehatan.
“Nah, batasnya itu kemudian ilmu pengetahuan,” ungkapnya.


Di akhir pemaparannya, Ibnu menegaskan bahwa manusia diperbolehkan memanfaatkan alam, namun tetap harus memperhatikan batas-batas lingkungan agar keseimbangan alam tetap terjaga dan tidak menimbulkan kerusakan di masa mendatang.

Pos terkait