Parigi, Harianpos – Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Abdul Kadir Karding, meminta pemerintah daerah mendorong petani segera mendaftarkan kebun durian mereka guna memenuhi syarat ekspor, khususnya ke pasar China.
Hal itu disampaikan Karding saat mengunjungi PT Sentra Pangan Sejahtra di Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parigi Moutong, Kamis (28/5).
Menurutnya, salah satu syarat utama ekspor durian adalah kebun harus terdaftar, menerapkan Good Agriculture Practices (GAP), serta memiliki sistem ketertelusuran (traceability).
“Kalau kebun tidak terdaftar dan asal tanamannya tidak bisa ditelusuri, maka ekspor tidak bisa dilakukan,” tegasnya.
Ia menyebutkan, dari total sekitar 6.434 hektare kebun durian di Sulawesi Tengah, baru sekitar 2 ribu hektare yang telah terdaftar.
Karena itu, ia meminta pemerintah daerah, DPRD, penyuluh pertanian, dan seluruh pihak terkait mempercepat proses registrasi kebun durian masyarakat.“Register dulu supaya semua petani punya hak untuk ekspor,” ujarnya.
Karding juga menegaskan bahwa pengembangan durian menjadi bagian penting dalam penguatan ekonomi hijau yang saat ini menjadi prioritas Presiden RI dalam memperkuat kemandirian ekonomi nasional.
“Ekonomi hijau adalah ekonomi yang bersumber dari tumbuh-tumbuhan dan pertanian, sedangkan ekonomi biru bersumber dari kelautan. Presiden sangat konsen terhadap pengembangan ekonomi hijau ini,” katanya.
Ia menjelaskan, Barantin memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan dan pengembangan ekonomi hijau, terutama melalui pengawasan kesehatan tanaman dan hewan.
“Kita tidak bisa mencapai kedaulatan pangan kalau tanaman kita berpenyakit. Kita juga tidak bisa mencapai kedaulatan protein kalau hewan kita sakit. Di situlah fungsi karantina,” jelasnya.
Menurutnya, Kabupaten Parigi Moutong memiliki potensi besar sebagai daerah penghasil durian yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Data menunjukkan, ekspor durian Sulawesi Tengah pada tahun lalu mencapai sekitar 6.035 ton dengan nilai antara Rp404 miliar hingga Rp470 miliar per tahun.
“Kebutuhan durian dunia sekitar 200 ribu ton, sementara produksi kita baru sekitar 195 ribu ton. Artinya peluang pasar masih sangat besar,” ungkapnya.
Karding juga mengingatkan pentingnya perawatan tanaman durian agar produktivitas meningkat.
Menurutnya, pohon durian yang dirawat dengan baik dapat menghasilkan hingga 800 kilogram sampai satu ton buah per pohon.
“Kalau 800 kilogram dikalikan Rp30 ribu per kilogram, nilainya bisa mencapai Rp240 juta. Jadi pilih mana, dirawat atau tidak dirawat?” pungkasnya.
